Pengikut

Minggu, 30 Agustus 2020

Rumus ABCD+T Menulis Buku Digital Mindset Seminggu

 

Bismillahirrahmanirrahim

Apa jadinya jika kita ditantang untuk menulis buku dalam waktu seminggu dan akan diterbitkan oleh penerbit mayor? Lalu yang menantang itu seorang professor dan diajak menulis kolaborasi? Jika sebagai penulis pemula, tentunya akan membuat kaget atau malah panik dan tidak siap.   

 

Namun buat penulis yang sudah mulai memiliki tradisi dan disiplin menulis. Ditambah lagi sudah punya karya sebelumnya. Maka tantangan seperti ini sayang untuk dilewatkan. Mencoba mengukur kemampuan dan kapasitas diri. Menantang diri untuk mengambil kesempatan. Yah, terkadang kesempatan tak datang dua kali. Maka segera sambut dan genggam kesempatan itu.

 

Berkolaborasi menulis buku Digital Mindset. Itu yang dilakukan Noralia Purwa Yunita dan Prof Richardus Eko Indrajit. Pengarang kedua adalah seorang akademisi dan pemilik kanal Youtube Prof  Ekoji Channel. Pengarang pertama terus terang bagi saya baru mengenal. Mungkin karena saya “kudet” Kurang update istilah anak milenial sekarang.

 

Noralia Purwa Yunita, lahir di kota Kudus 12 Juni 1989. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Negeri Semarang lalu melanjutkan program magister di universitas yang sama. Saat ini mengajar di SMP Negeri 8 Semarang. Ia mengajarkan mata pelajaran IPA dan Prakarya.

 

Perkenalannya dengan dunia tulis menulis dimulai sejak kuliah S1. Dimulai dari sebuah lomba karya tulis ilmiah tingkat provinsi. Awal keikutsertaannya karena ia diajak oleh kakak kelas. Ia mengakui belum memiliki pengalaman sama sekali tentang kegiatan tulis menulis.

 

Ragu tapi penasaran atau penasaran tapi ragu. Begitu kira-kira ia mencoba memulai langkah. Akhinya ia memberanikan diri.  Modalnya hanya dua yaitu nekad dan otodidak. Hasilnya di luar dugaan. Ia berhasil menyabet juara tiga tingkat provinsi.

 

Sekali mendapatkan juara, selanjutnya membuat ia ketagihan menulis dan mengikuti lomba sejenis. Ia hanya belajar dari kakak kelas dan dosen pembimbing. Hasilnya beberapa kali ikut lomba, beberapa kali pula ia menyabet juara.

 

Berikut daftar prestasi yang pernah diraihnya  adalah juara harapan 1 lomba karya tulis di Universitas Negeri Semarang, program pendanaan Dinas Provinsi Jawa Tengah pada program fasilitasi karya ilmiah tingkat Provinsi Jawa Tengah, program pendanaan LPPM pada usulan program pengabdian masyarakat, program pendanaan DIKTI pada program kreativitas mahasiswa tingkat nasional, pendanaan program Student Grand Hibah I’m Here DIKTI, serta sebagai pembimbing yang mengantarkan tim menjadi juara  I lomba karya tulis ilmiah SMA tingkat Jawa tengah.

 

Karya yang sudah dibuat meliputi bahan ajar Kimia SMA. Buku antologi "Menciptakan pola pembelajaran efektif dari rumah", Beberapa artikel yang terpublikasi di media suara guru yaitu : “Pemmbelajaran Daring Sebagai Solusi?” Juga artikel: “Aplikasi Baru Untuk Mengajar Online” diterbitkan majalah Geliat Gemilang Bandung.

 

Buku seri Ekoji Academy "Digital Mindset", adalah buku pertama hasil kolaborasi dengan Prof Eko dan penerbit Andi. Menurutnya merupakan pencapaian terbesarnya dapat menulis dan menerbitkan buku dan diterima oleh penerbit mayor Andi Yogyakarta.

 

Saat ini sedang tahap penyelesaian naskah buku antologi seri kisah inspiratif kolaborasi peserta gelombang 8, naskah buku seri ekoji academy "gamifikasi", naskah buku seri PJJ ekoji academy, dan buku teks pelajaran oleh Penerbit Bumi Aksara.

 

Tips ABCD plus T

Untuk mennghasilkan karya yang sangat layak diterbitkan bahkan oleh penerbit mayor. Ibu Noralia memberikan tipsnya, yaitu :

 

Pertama, Ambil kesempatan yang ada. Saat ada kesempatan dan kita memilki tulisan yang sesuai, maka segera mengambil kesempatan tersebut. Sebuah kalimat menarik yang saya kutip dari blog nya adalah: “ Orang yang memendam akan kalah dengan orang yang mengungkapkan. Orang yang menunggu akan kalah dengan orang yang melakukan”

 

 Menurutnya buku pertama Digital Mindset, berawal dari tantangan dari Prof Eko untuk menulis kolaborasi dan ditargetkan selesai selama kurun waktu seminggu. Alasan memilih judul tersebut, menurutnya karena sesuai dengan situasi pandemic say ini yang mengurangi bersentuhan dan berkerumun.

 

Kedua, Beri  Target. Kita memberikan target pada buku yang kita tulis sesuai dengan jumlah outline yang telah ditetapkan. Misalnya ada lima bab dan akan diselesaikan selama 5 bulan, maka target waktu tersebut harus dapat diselesaikan penulisan buku kita.

 

Ketiga, Catat referensi. Terkait buku Digital Mindset, setelah menuliskan outline dan menetapkan target. Maka langkah selanjutnya adalah mencari referensi. Dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku-buku, jurnal nasional dan internasional serta modul-modul dari Kemendikbud.

 

Keempat, Disiplin waktu. Merupakan satu tantangan tersendiri berdamai dengan waktu. Menulis secara rutin dan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan, terkadang sulit dikompromikan. Menurutnya terkadang semua persyaratan utama telah terpenuhi. Tiba-tiba rasa malas dan jenuh dating menghinggapi. Patut diwaspadai. Ia memberikan solusi mengatasi yaitu dengan mengatur waktu menulis sesuai dengan waktu ternyaman yang kita sukai.

 

Kelima, Tulis. Menulislah sesuai dengan outline. Ia memberikan saran sebaiknya dalam menulis tidak terlalu terpaku atau pun terbebani oleh target bahwa tulisan kita haruslah terbit di penerbit mayor. Untuk mengantisipasi rasa kecewa ,jika target tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. NIkmati saja alurnya, ia menambahkan.

 

Tips berikutnya terkait kegiatan menulis. Ia menjelaskan bahwa menulis dan membaca adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Banyak membaca akan memperbanyak diksi kita. Ini membuat tulisan kita semakin renyah ketika dibaca.

 

Semoga rumus-rumusnya bisa dijalankan dan dapat mengikuti jejaknya memiliki buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor. Aamiin


Rabu, 26 Agustus 2020

Law of Attraction Dalam Jejak Digital Nusantara

 

Bismillahirrahmanirrahim

Semua yang ada di semesta berjalan pada garis edarnya masing-masing. Benda-benda langit dan benda-benda yang ada di bumi. Termasuk manusia. Meski kelihatannya berbeda dan terpisah tapi pada dasarnya semua berada dalam satu sistem semesta. Saling terkait dan  terhubung.

 

Istilah Law of Attraction pertama kali muncul di media cetak dalam sebuah buku yang ditulis oleh orang Rusia bernama Helena Blavatsky. Buku ini mengacu pada kekuatan menarik yang terjadi di antara unsur-unsur roh.

 

Satu pendapat menyatakan bahwa proses tarik menarik terjadi dalam alam pikiran lalu diteruskan pada proses visualisasi. Kalau saya lebih memahami secara sederhana teori ini sebagai sebuah kekuatan niat yang kokoh untuk melakukan sesuatu, lalu dilanjutkan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Adapun hasilnya, orang mengatakan bahwa hasil tidak akan menghianati proses

 

Demikianlah kira-kira yang dilakoni oleh seorang perempuan hebat. Namanya Ibu Musi’in. Orang-orang di sekitarnya memanggilnya dengan panggilan manis, Bu Iin. Ia lahir di kota Tahu Takwa,  Kediri tanggal 6 Juli 1970. Ia memiliki hobbi membaca buku, menulis, traveling dan memasak.

 

Bu Iin menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota Kediri. Ia menyelesaikan SDN Kras 1 tahun 1977-1983. SMP Kras tahun 1983-1986. SMAN 4 lulus tahu 1989. Melanjutkan pendidikan sarjana S1 di IKIP Negeri Malang tahun 1989-1994 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Jiwanya yang haus ilmu membuatnya lanjut hingga menempuh program magister di Universitas Negeri Surabaya jurusan yang sama dengan program S1- nya tahun 2006-2009.

 

Guru, Dosen, Tutor, Aktivis dan Pengusaha

Bu IIn seorang perempuan yang multi talenta. Sesuai dengan latar belakang pendidikan tingkat sarjana dan magister yang telah ditempuh oleh Bu IIn. Beliau berkarir sebagai guru bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri sejak tahun 1998.

 

Kecintaannya berbagi ilmu menggerakkan hatinya untuk menjadi dosen. Ia mengajar para mahasiswanya di STKIP PGRI dan  STIE Dewantara  Jombang. Masih dekat dengan dunia mengajar. Ia juga menjadi tutor bagi pekerja asing di PT Chiel Jedang Jombang.

 

Bu IIn tergabung dalam Tim Pengembang Mata Pelajaran (Mapel) bahasa Inggris dan menjadi bagian dari Tim Penilai angka kredit guru di tingkat kabupaten Kediri.

 

Jiwa penggerak yang ada dalam dirinya, kuat memanggilnya untuk menjadi pegiat sosial. Bersama organisasi non pemerintah (NGO). Ia adalah founder LSM YAPSI tahun 1991bergerak di bidang: 

 

1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM bekerja sama dengan Bank Indonesia Surabaya.

2. Pemberian bantuan pangan bagi masyarakat miskin, posyandu, anak sekolah bekerja sama dengan World Food Program (UN-WFP) di wilayaj Surabaya, Gresik dan Sidoarjo

3. Pemberian bantuan susu bagi anak-anak SD bekerja sama dengan Susu Ultra dam Departemen  Pertanian Amerika Serikat.

4. Pelatihan Sekolah Ramah Anak  bagi guru-guru SD di Kabupaten Sampang bekerja sama dengan UNICEF.

5. Pendidikan  lingkungan dan daur ulang sampah bekerja sama dengan Tetra Pak Indonesia dan TP UKS Propinsi Jawa Timur.

6. Pengadaaan perpustakaan kampung, dan toilet di kampung-kampung Surabaya donasi dari UN WFP.


Jiwa pengusaha rupanya cukup mengalir deras dalam diri Bu IIn.  Sebuah perusahaan dimana ia adalah foundernya. PT In Jaya bergerak bergerak di bidang ekspedisi untuk pendistribusian produksi Indomarco dan Indolakto Pasuruan. Selain itu PT In Jaya merupakan pemasok bahan baku tebu  bagi pabrik gula di wilayah Madiun, Malang dan Kediri.


Penulis Buku Jejak Digital Nusantara

Sama dengan dua orang narasumber sebelumnya di Pelatihan Menulis Gelombang 15, yaitu Cikgu Tere dan Pak Roma. Bu Iin termasuk ke dalam peserta yang menerima tantangan menulis dalam waktu seminggu yang akan diterbitkan oleh penerbit mayor oleh Prof Eko Indrajit, pemilik Channel Ekoji di Youtube.

 

Dengan dimoderatori oleh Bu Kanjeng, Bu IIn mennceritakan proses kreatif penulisan bukunya yang diberi judul Jejak Digital Nusantara. Buku ini membahas tentang tren penggunaan internet di Nusantara, Indonesia.


Bu Iin dengan sukarela memberikan bocoran outline buku tersebut yang terdiri atas lima bab. Bab pertama tentang Pengguna Internet di Indonesia. Bab Kedua tentang Media Sosial. Bab Ketiga tentang Literasi Digita. Bab keempat tentang Ekosistem Literasi Digital Nusantara. Terakhir bab lima tentang Literasi Digital.


Pada saat mengajukan outline kelima bab bukunya ke Prof Eko. Keesokan harinya Prof Eko langsung mengirimkan rencana cover buku tersebut. Hal ini semakin memicu gairah dan semangat berkobar dalam dirinya untuk menyelesaikan buku tersebut.


Dalam penyelesaian buku tersebut. Bu IIn menyebutkan banyak menggunakan sumber seperti surat kabar, buku-buku dan penelusuran referensi di internet. Tindakan Bu IIn dengan menyisihkan gajinya 10 % untuk pengembangan diri, patut dicontoh dan diikuti oleh siapapun yang ingin memacu peningkatkan kemampuan dan kapasitas diri.


Ia berlangganan surat kabar, berlangganan WIFI dan rajin membeli buku-buku. Ia tidak hanya membeli buku-buku yang sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya. Hampir semua jenis buku yang menarik dan menurutnya perlu untuk dibaca. Ia upayakan untuk membelinya. Hal ini membuat wawasan pengetahuannya semakin bertambah dan berkembang.


Secara radikal ia mulai mendobrak tradisi lamanya. Sekedar menjadi pembaca dan penikmat karya-karya orang lain. Kalaupun ada kegiatan menulis. Itupun karena sekedar memenuhi kewajiban sebagai seorang guru. Seperti menulis PTK, jurnal, proposal dan laporan untuk kepentingan pekerjaan.


Dari tantangan menulis buku di pelatihan menulis bersama Omjay, lebih jauh ia menantang dirinya sendiri. Saya teringat perkataan orang bijak bahwa orang yang banyak menulis akan banyak membaca. Orang yang banyak membaca harusnya bisa banyak menulis.


Bu IIn telah memiliki semua persyaratn untuk menulis. Fasilitas dan infrastruktur sudah mendukung. Sudah diniatkan pula. Menurut Bu Iin sudah direncanakan awal tahun 2020 akan menulis buku di SKP. Ruh dari buku karya Rhonda Byrne The Secret of Law of Atraction begitu kuat mempengaruhinya. Inti buku tentang rahasia kekuatan pikiran atau gaya tarik menarik di alam semesta.


Mengikuti pelatihan menulis adalah momentumnya. Kekuatan pikirannya untuk menulis buku telah menemukan jalannya. Sebuah karya buku besar bersiap lahir. Bu IIn merasa tersentil dengan pernyataan Syaikh Hasyim Asy’ari: “Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?” Selain itu, Bu IIn terinspirasi dari pernyataan fenomenal Pramoedya Ananta Toer: “ Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah”. 


Selasa, 18 Agustus 2020

Wind Of Change: Meretas Jalan Menuju Guru Interpreneur Inspiratif

Bismillahirrahmanirrahim

I follow the Moskwa

Down to Gorky Park

Listening to the wind of change

An August summer night

Soldiers passing by

Listening to the wind of change

 

Alunan lagu Wind of Change dibawakan oleh Scorpion, grup band legendaries dari Hannover Jerman. Menjadi pembuka acara sebelum narasumber hadir membawakan materinya pada pelatihan menulis gelombang 15. Lagu ini hits di era tahun 90. Lumayan sedikit bernostalgia mengenang masa-masa lagu ini hits.  

 

Bapak Wijaya Kusumah alias Omjay yang mengirimkan lagu ini di grup. Mungkin maksudnya sekedar mengisi waktu. Namun saya sedikit menerka-nerka tentang kaitan lagu ini dengan materi yang akan dibawakan. Judul lagi ini Wind of Change. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya adalah Angin Perubahan.  Berharap sang narasumber akan membawa rumus perubahan terkait kegiatan tulis menulis.

 

Yang menarik saya menemukan kecocokan kata dalam lirik lagu tersebut. Kata an august artinya bulan Agustus. Tepat sekali saat ini adalah bulan Agustus. Di bulan ini beberapa peristiwa penting akan berlangsung. Di antaranya perayaan hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2020 .

 

Kembali kepada kegiatan pelatihan menulis. Omjay sebelumnya sudah mengirimkan di grup whatsapp mengenai profil narasumber. Ia seorang perempuan.

 

Tuhan menciptakan perempuan sebagai makhluk yang istimewa. Bila disebutkan maka tidak akan cukup hanya satu paragraph untuk menuliskannya.

 

Salah satu dari keistimewaan itu adalah mereka mampu melakukan lebih dari satu pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Contoh saat mereka menelpon sekaligus bisa sambil memasak, mencuci piring, menyapu dan pekerjaan domestik lainnya. Ini hanyalah satu contoh. Banyak contoh kegiatan lainnya yang bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

 

Tak menunggu lama, omjay mulai membuka acara lalu mempersilahkan Ibu Kanjeng untuk menjadi moderator. Namanya Dra. Betti Rismalenni, MM. Beliau seorang guru sekaligus seorang entrepreneur, Ibu Betti memaparkan kisahnya.  

 

Awal Interpreneur

Bu Betti begitu biasa ia disapa. Sejak kecil ia memiliki seorang ibu yang suka membuat kue. Selain untuk dinikmati sekeluarga. Kue buatan ibunya juga dijual dengan cara ditawarkan dan dititipkan ke toko-toko di sekitar rumahnya di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

 

Betti kecil lah yang menawarkan dan menitipkan kue-kue buatan ibunya sejak mereka tinggal di Cempaka Putih Jakarta hingga keluarga mereka pindah ke Bekasi Jawa Barat.

 

Menitipkan kue-kue buatan ibunya terus ia lakukan hingga jenjang SMA. Untuk jaga gengsi karena ia aktif di sekolah. Pagi-pagi sekali sebelum teman-temannya tiba di sekolah Ia sudah lebih dahulu menitipkan kue-kuenya di kantin SMA 1 Bekasi

 

Menapaki jenjang perguruan tinggi. Ibunya memutuskan untuk merambah usaha katering.

Katering adalah sebuah jenis usaha yang bergerak di bidang penyediaan makanan saji dalam jumlah yang relatif besar. Katering mereka sudah tergolong eksis. Terbukti dari beberapa kantor dan pabrik di sekitar wilayah Bekasi berlangganan katering pada mereka.

  

Usaha catering terus berjalan hingga akhirnya Bu Betti menikah. Kesibukannya yang padat setelah menikah, ditambah faktor kecapean membuat Bu Betii memutuskan menutup usaha kateringnya.

 

Dari kisah yang dituturkan Bu Betti. Ia menyimpulkan bahwa jiwa interpreneurnya telah tumbuh sejak ia mulai menawarkan kue-kue buatan ibunya. Dan menurut analisa penulis. Jiwa interpreneurnya mengalir  kuat dari stereotype suku. Keluarga Bu Betti berasal dari Padang, Sumatera Barat. Orang-orangnya dikenal luas  banyak menekuni pekerjaaan sebagai pedagang, saudagar, wirausaha hingga pengusaha. Semoga kesimpulannya tidak bias, hehe.

 

Mendirikan Kursus dan Sekolah

Jiwa interpreneur bu Betti ternyata tidak hilang. Bu Betti mendirikan kursus tahun 1995. Tidak tanggung-tanggung, Bu Betti adalah pengelola pusat 24 kursus di Bekasi. Bu Betti tidak cukup hanya dengan membuka kursus. Ia melakukan ekspansi dengan mulai merintis dan mengelola Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Insan Kamil. Berlokasi di Bantar Gebang Bekasi.

 

Dalam masa pengembangan kursus dan sekolah yang ia dirikan. Ia bekerjasama dengan pribadi ataupun sekelompok orang/organisasi. Ia menjalin kerjasama dengan sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi. Namanya Mall Metropolitan. Sejak tahun 1996 hingga tahu 2007 secara rutin menyelenggarakan lomba di Mall tersebut tanpa diminta biaya sewa tempat sepeserpun. Bahkan pihak Mall pun dengan sukarela menyediakan secara gratis untuk hadiah lomba.

 

Dengan orang-orang yang berminat mendirikan kursus pun tak luput ia lakukan kerjasama. Sebagai tahap awal Bu Betti mengajukan syarat bahwa ialah yang akan melatih guru-gurunya. Selain itu ia mewajibkan kursus tersebut menggunakan buku-buku karyanya sebagai materi pembelajaran.

 

Jiwa bisnisnya tak pernah lekang. Lomba-lomba yang rutin ia dadakan, membutuhkan piala-piala sebagai bagian dari hadiah lomba. Piala-piala tersebut menjadi target bisnis berikutnya. Dana piala ia dapatkan dari pembayaran pendaftaran. Ikut menyertakan poin makan dalam kegiatan lomba. Untuk mendapakan untung Ia bekerjasama dengan pengelola makanan cepat saji, juga tak luput dari sisi-sisi tukang dagangnya. Bu Betti tidak mau disebut tukang dagang. Kurang keren dibanding dengan guru.

 

Tindakan mengambil untung dari setiap kegiatan yang dilakukan. Ia tujukan untuk membiayai operasional kursus dan sekolah yang ia kelola. Secara mandiri terus ia lakukan. Tanpa memperoleh bantuan dari fihak manapun. Selain dari kegiatan lomba. Sumber dana ia dapatkan dari usaha menjual buku-buku materi TK yang ia tulis dan cetak sendiri.

 

Isi materi bukunya di antaranya adalah : Mengenal Tarik Garis, Mengenal Angka, Mengenal Huruf, Hafalan Surat Pendek. Materi Aritmetika merupaka materi unggulannya. Buku Aritmatika yang telah ditulisnya berjumlah 30 buku. Alasan utama menulis buku-buku tersebut semata-mata karena dapat menghasilkan uang. Tanpa menafikan nilai angka kredit buku tersebut tergolong tinggi untuk syarat kenaikan pangkat guru.

 

Dari hasil penjualan buku-buku tersebut di pusat-pusat kursus dan sekolah digunakan untuk membantu biaya operasional sekolah. Alhamdulillah sejak tahun 2009 mendapatkan dana BOS yang sangat membantunya menjalankan operasional sekolah.

 

Prestasi-Prestasi

Adapun prestasi yang telah diraih Bu Betti selain mengelola 24 tempat kursus dan mendirikan Kelompok Bermain (KB), TK dan SD Insan Kamil.  Bu Betti pernah meraih Juara pertama  tingkat Kota Bekasi. Kota Bekasi terdiri dari 12 kecamatan

 

Kegigihan dan ketagguhan Bu Betti mengelola kursus dan sekolah telah berbuah manis. Saat ini ia tidak perlu lagi terlibat secara penuh. Salah seorang anak laki-lakinya telah mengambil alih tanggung jawabnya.

 

Bu Betti mulai tertarik kembali menekuni dunia kuliner. Ia memulai ikut pelatihan-pelatihan. Menghasilkan produk skala rumah tangga. Memiliki PIRT produk. PIRT adalah sebuah singkatan yaitu Pangan Industri Rumah Tangga yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kota setempat kepada industri pangan skala usaha kecil dan menengah atau rumahan.

 

Untuk menjamin rasa aman kepercayaan konsumen terhadap produknya. Bu Betti melakukan uji halal dan alhamdulillah produknya telah memiliki sertifikat halal. Langkahnya tak berhenti sampai di sini. Bu Betti melengkapi persyaratan untuk memiliki hak paten atas produknya. Semakin lengkap dengan sertifikat wirausaha yang telah dimiliki. Usahanya telah menjadi UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menegah) binaan Dinas Koperasi Kota Bekasi

 

Prestasi-prestasi yang telah diraih tersebut hanyalah efek samping dari upaya yang telah dilakukan dengan niat awal memberikan kesempatan kepada semua kalangan untuk dapat menikmati pendidikan berkualitas dengan mendirikan sekolah berkualitas dan terbaik.

 

Ketika Bu Betti ditanya oleh moderator ibu Kanjeng tentang niat atau tujuan awal mendirikan sekolah. Bu Betti membuat sebuah analogi: “Kalau orang kaya sekolah di tempat bagus dan orang miskin di tempat jelek. Semua biasa. Tapi bila orang yang tidak mampu bisa sekolah di tempat bagus. Itu baru luar biasa”. “Karena saya guru maka saya pasti bisa buat sekolah” Ia menambahkan.

 

Motivasi paling utama mendorong ia mendirikan sekolah adalah perasaan sedih ketika ia ditolak sebuah sekolah bagus saat akan mendaftarkan anaknya. Alasannya gaji suami yang juga seorang guru dianggap tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya. Kini anaknya yang tertolak itu telah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Gajah Mada dengan nilai cumlaude.

 

Demikian materi yang disampaikan Bu Betti dalam pelatihan menulis gelombang 15 melalui grup whatsapp. Sebelum mengakhiri, ia menyampaikan kalimat penutup yaitu: “ Jika mau melakukan sesuatu, saya selalu berdoa: “ Ya Allah jika Engkau ridho yang akan aku lalukan, maka permudahlah. Jika itu sulit buatku dan Engkau tidak ridho, maka persulitlah”.

 

Perubahan-perubahan yang telah dilakukan Bu Betti telah dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitarnya. Senada dengan lagu Wind of Change di awal pertemuan. Perubahan di bulan Agustus meretas jalam menjadi guru interpreneur. 

Sabtu, 15 Agustus 2020

Menutrisi Semangat Menulis Buku Seminggu Dengan Rumus CLBK

 

Bismillahirrahmanirrahim

Awal Literasi

Sifat ingin tahu pada manusia mendorong untuk melakukan suatu kegiatan –kegiatan baru. Karena dilakukan secara berulang maka kegiatan tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang sudah melekat dalam diri seseorang. Maka akan sulit untuk menghilangkan apalagi merubahnya.

Demikian pula dengan kegiatan menulis. Bila sudah menjadi sebuah kebiasaan  dilakukan setiap hari bahkan setiap waktu. Jika tidak dilakukan seperti ada sesuatu yang hilang dari diri kita.


Penerapan cara-cara tersebut telah dilakukan oleh seorang guru bernama Yulius Roma Patandean, S.Pd. Warga sekolah di UPT SMAN 5 Kabupaten Tana Toraja menyapanya dengan panggilan akrab Pak Roma. Alasannya lebih mudah diingat karena namanya mirip dengan kata yang digunakan dalam peribahasa hingga merek makanan.


Keikutsertaan Pak Roma sebagai peserta Rakornas Virtual yang diberi mandat oleh PGRI Kabupaten Tana Toraja. Merupakan titik awal perkenalannya dengan dunia tulis menulis, Dari kegiatan tersebut, selanjutanya ia diarahkan mengikuti kegiatan pelatihan belajar menulis lewat grup whatsapp. Di grup inilah, ia menngenal sosok seorang guru blogger hebat. Namanya Wijaya Kusumah. Biasa dipanggil Omjay. Omjay inilah yang menggawangi grup-grup WA Inti  dan lini pelatihan belajar menulis semua gelombang. Sejak gelombang pertama hingga gelombang 15. Luar biasanya yang bergabung di grup ini tidak dipungut biaya alias gratis.


Pak Roma bergabung di kelompok 8 dan 9. Tidak ada batasan untuk bergabung di gelombang manapun. Sepanjang kuota pesertanya masih tersedia. Pesryaratan yang paling utama  adalah peserta yang bergabung di grup harus mau menulis. Bahkan wajib menulis. Karena pada setiap selesai sesi pemaparan materi dari narasumber. Peserta wajib menulis resume materi tersebut. Lalu memposting di blog milik masing-masing peserta.


Tantangan Menulis Buku Seminggu

Pada satu kesempatan, Omjay menghadirkan seorang narasumber bernama Prof Eko Indrajit. Ia seorang dosen, tokoh teknologi informasi dan juga seorang penulis. Pemilik Ekoji Channel. Ia memberikan tantangan kepada peserta untuk memilih tema yang ditawarkan. Lalu menulis dan menyelesaikan dalam masa seminggu. Kisah tantangannya mirip dengan Cikgu Tere. Karena baik Pak Roma maupun Cikgu Tere berada dalam gelombang pelatihan yang sama. Perbedaan hanya pada tema yang dipilih. Kisah Cikgu Tere dapat dibaca pada https://srimulianahamid.blogspot.com/2020/08/menulis-buku-seminggu-dan-diterbitkan.html


Berubah Untuk Menguasai Dunia. Judul yang dipilih pak Roma. Judul bukunya mengalami perubahan menjadi Digital Transformation: Berubah Untuk Menguasai Dunia. Ia menyusun outline bukunya sambil tetap menjalin komunikasi dengan Prof Eko.


Isi Outline ia ramu dari berbagai sumber. Internet, buku-buku bahkan pengalaman pribadi. Menurutnya ada satu bab yang  idenya berasal dari satu peristiwa. Terjadi ketika kampus tempatnya sedang menempuh program pascasarjana magister. Dihantam banjir dan tanah longsor. Peristiwa ini kemudian ia kaitkan dengan teknologi building automation. Apa itu building automation? Secara singkat adalah sebuah sistem komputerisasi yang didesain untuk memonitor dan mengontrol sistem mekanikal, elektrikal dan penerangan dari sebuah bangunan.


Pak Rama terus mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk menyelesaikan bukunya. Di sela-sela waktu menulis. Ia berkebun dengan merawat pohon-pohon cengkeh yang sedang tumbuh remaja. Mengamati bakal buah cengkeh dan memandang rimbun hijau daun cengkeh mampu menyegarkan mata dan pikirannya. Membuatnya kembali bersemangat meneruskan dan menyelesaikan bukunya.


Hari yang dinantipun tiba. Pak Rama menyelesaikan bukunya. Ketika Penerbit Andi menyatakan bahwa naskahnya lolos untuk diterbitkan. Ia tak kuasa lagi membendung air matanya.” Prof, terimakasih atas bimbingannya. Seorang anak kampung ternyata bisa menulis buku.” Demikian pesan ia tuliskan lewat whatsapp kepada Prof Eko.


Rumus CLBK

Selain menjalankan tugasnya sebagai guru. Pak Rama juga pernah menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ekonomi UKI Toraja. Ia juga seorang tutor di Universitas Terbuka. Ia menjadi fasilitator belajar di Yayasan Trampil Indonesia.  Menjabat sebagai wakil sekretaris di organisasi guru PGRI dan sekretaris YPLP PGRI Kabupaten Tana Toraja.


Pak Rama sering diundang  menjadi juri lomba-lomba debat bahasa Inggris tingkat SMA dan lomba story telling tingkat SMP di Kabupaten Tana Toraja. Ia mengisahkan bahwa pada awalnya ketertarikannya pada bahasa Inggris dan memilih jurusan tersebut. Bukan karena ia ingin menjadi guru bahasa Inggris. Ia bercita-cita jadi wartawan yang meliput pertandingan sepak bola.


Ian Situmorang dan Arief Natakusumah adalah dua nama wartawan di Tabloid Bola. Yang mengispirasinya menjadi wartawan. Ia tidak tahu bahwa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang dipilinya pada akhirnya membawanya menjadi seorang guru.


Belajar dari pengalaman dan berbagai kegiatan yang ia lakukan, termasuk kegiatan menulis. Ia menyebutnya sebagai CLBK. Istilah CLBK menjadi populer di era milenial sekarang ini. Terutama di kalangan anak muda. Dalam atmosfir asmara, dipanjangkan menjadi Cinta Lama Bersemi Kembali.


Dalam kegiatan menulis yang mewarnai hari-harinya. Ia mengadopsi istilah CLBK sebagai sebuah ajakan. Sekaligus sebagai perintah untuk dirinya. Coba, Lakukan, Budayakan, Konsisten.


Sebuah frase sederhana namun sangat mengikat. Jika Omjay mengatakan: “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”. Maka Pak Rama pasang alarm untuk dirinya yaitu: “Tuailah hasil selama masih sanggup CLBK”.


Coba. Berani mencoba tawaran pekerjaan, jarang menolak selama berkaitan dengan dunia mengajar. Dalam kegiatan menulis, memulai kadang sulit. Terutama membangun ide lalu mencurahkan kalimat demi kalimat. Tips dari Pak Rama adalah mencoba berulang-ulang akan melatih kita memproduksi untaian kata-kata yang menghasilkan kalimat bermakna.


Lakukan. Bila telah mencoba dan menemukan rasa dan keunikan tulisan kita. Terus dilakukan agar ide tidak mengendap seiring berlalunya waktu. Tips dari Pak Rama adalah memaksa diri kita untuk menulis. Menulis apa saja . Saya menterjemahkannya bahwa apapun yang mampu ditangkap oleh panca indera kita lalu diolah oleh fikiran dan rasa kita. Maka tulislah. Tulisan dapat disimpan di blog maupn di laptop.


Budayakan. Menulis harus menjadi budaya kita. Menjadi bagian dari cara hidup kita yang tak terpisahkan. Budayakan menulis setiap hari. Menurut saya kalimat menulis setiap hari yang menjadi benang merah semua nara sumber pelatihan menulis sejak materi pertama hingga materi Pak Rama. Bahkan saya berani mengatakan bahwa semua penulis hebat di luar sana melakukan kegiatan menulis setiap hari. Meskipun hanya satu paragraf, dua paragraf, tiga paragraf dan seterusnya.


Konsisten. Tak ada karya yang terselesaikan dengan baik tanpa konsistensi. Konsisten dalam menulis adalah misi untuk mencapai visi seorang penulis, yakni menghasilkan sebuah karya tulisan yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. Menurut Pak Rama cara untuk tetap konsisten adalah dengan memaksa menulis setiap hari, minimal menulis tugas untuk siswa di blog atau upload gambar.


Jangan takut CLBK. Ayo CLBK. Nikmati prosesnya dan syukuri hasilnya. Sebelum mengakhiri materinya. Pak Rama memberikan sebuah pesan penutup: “ Menulis adalah proses kehadiran kita untuk membawa kabar baik tentang ilmu kehidupan. Apapun yang kita tulis pasti ada hubungannya dengan proses hidup kita”.      

Kamis, 13 Agustus 2020

Menulis Buku Seminggu dan Diterbitkan Penerbit Mayor? Ini Tips Cikgu Tere

 

Bismillahirrahmanirrahim

Bakat Menulis Atau Latihan Menulis? 

Pernah mendengar kalimat ini yang  mengatakan bahwa bakat yang dimiliki hanya memiliki andil sebanyak 1 persen dalam menentukan keberhasilan sesorang. Sisanya sebanyak 99 persen ditentukan oleh latihan-latihan yang dilakukan secara terus menerus. Jangan pernah berkecil hati bahwa kita tidak memiliki bakat. Senang melakukan sesuatu yang kemudian dikerjakan terus menerus. Maka apa yang dilakukan akan melekat dan menyatu dalam diri kita.

 Demikian pula dengan kegiatan tulis menulis. Kita boleh merasa hanya punya setengah, sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki bakat dalam menulis. Namun bila dikerjakan terus menerus seperti yang Omjay bilang menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

 

Hal ini terjadi pada seorang perempuan bernama Theresia Sri Rahayu. Saya langsung teringat Bu Kanjeng. Nama aslinya Sri Sugiastuti. Salah satu penulis hebat yang pernah saya bahas di tulisan sebelumnya.Namun kali kita hanya akan fokus ke satu nama yaitu Theresia Sri Rahayu. Ia biiasa dipanggil Cikgu Tere.Memiliki motto yaitu belajar, belajar dan belajar

 

Cikgu Tere lahir di Kuningan Jawa Barat tanggal 13 September 1984. Ia berkarir sebagai seorang guru di SDN Wahibur Kabupaten Sumba Tengah Nusa Tenggara Timur. Ia bukan seorang guru biasa. Banyak prestasi yang telah ditorehkan. Di dalam daftar yang dibagikan pada peserta pelatihan menulis gelombang 15 yang dipandu oleh Mr. Bams. Terdapat 17 prestasi mulai dari skala lokal, nasional bahkan internasional.

 

Berikut prestasi yang pernah diraih: Juara 1 Guru Berprestasi tingkat Kecamatan Padalarang – Kabupaten Bandung Barat (2014) . Juara 2 Lomba Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Bandung Barat (2014). Juara 3 Lomba Guru MIPA tingkat Kecamatan Padalarang (2014).

 

Juara 1 Olimpiade Guru Nasional tingkat Provinsi NTT (2018. Finalis Lomba Olimpiade Guru Nasional tingkat nasional (2018). Finalis Lomba Alat Peraga Matematika Sederhana tingkat nasional (2018).

 

Peserta Short Course ke Luar Negeri dalam Program 1000 Guru ke Luar Negeri (2019). 40 besar penerima dana hibah penelitian pada program Teaching Challenge (2019). Finalis Course on Developing Lesson Study for Primary Mathematics Teacher tingkat internasional (2019). Guru Inti Terbaik dalam Pembekalan Guru Inti Program PKP tingkat Provinsi NTT (2019). Peserta Terbaik dalam Bimtek UKS Regional Bali. Sahabat Rumah Belajar Provinsi NTT (2019). FinalisLomba Mathematics Teaching Learning Model (MTLM) tingkatinternasional (2019).   Kader Inti Gerakan Ajarmat / Ayo BelajarMatematika (2019).

 

Resume terbaik dari KSGN dan Pelatihan Belajar Menulis Bersama Om Jay (2020). Blogger inspiratif dari Ikatan Guru TIK PGRI dengan Penerbit Andi Yogyakarta  (2020). 35 selected participants of Advance Online Course SEAMEO Qitep in Mathematics (2020).

 

Salah satu prestasi yang dibahas dan berkaitan dengan pelatihan menulis gadalah keberhasilannya meraih resume terbaik tahun 2020. Kebrhasilannya ini yang menjadi pemicu langkah spektakuler berikutnya.

 

Pada salah satu sesi materi pelatihan menulis. Omjay menghadirkan narasumber Richardus Eko Indrajit. Beliau salah satu tokoh teknologi informasi dan juga seorang penulis. Beliau inilah yang memberikan tantangan kepada peserta pelatihan menulis termasuk Cikgu Tere. Untuk menulis buku dan menyelesaikannya dalam waktu seminggu.

 

Ini sebuah tantanngan yang sepertinya tidak mungkin. Karena rata-rata untuk sebuah buku paling tidak membutuhkan waktu sekitar sebulan. Seperti yang pernah saya lakukan. Atau 25 hari seperti yang dilakukan teman saya Nurhidayati. Teman sesama peserta pelatihan menulis di gelombang 15.

 

Tantangan menulis seminggu oleh Eko Indrajit dengan cara melelang topik. Peserta diminta untuk memilih topik dalam sebuah channel youtube miliknya yaitu ekoji channel. Channel ini melakukan live seminar hampir setiap hari dengan berbagai topik menarik.

 

Cikgu Tere menunjukkan ketertarikan tinggi pada tema ubiquitous learning. Apa itu ubiquitous learning? Ubiquitous learning adalah sebuah konsep belajar dimanapun, kapanpun, dan dengan apapun. Ubiquitous learning merupakan evolusi dari e-learning. E-learning adalah sebuah konsep pembelajaran jarak jauh dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam penyampaiannya.

 

Cikgu Tere mulai menyusun outline dan  secara intens mengkomunikasi perkembangan tulisannya melalui percakapan whatsapp dengan Prof Eko. Dalam masa pandemi Cikgu Tere tetap melakukan tugasnya mengajar. Ia tidak melakukan pembelajaran secara daring dengan siswanya. Infrastruktur yang kurang mendukung  seperti jaringan internet yang tidak bisa diakses secara merata. Cikgu Tere melakukan kunjungan langsung ke rumah siswa.

 

Naskah tulisan Cikgu Tere mengalami beberapa perubahan, perbaikan  dan penambahan konten. Hingga menjelang deadline pengumpulan naskah. Di sela-sela tugasnya mengajar dan melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.

Keluarga dalam hal ini suaminya sangat mendukung kegiatan menulisnya. Terutama tulisannya yang rencana akan diselesaikan dalam kurun waktu seminggu. Suaminya bersedia dengan sukarela mengasuh dan mengajak bermain buah hatinnya ke luar rumah di saat Cikgu Tere sedang menulis.

 

Cikgu Tere juga memanfaatkan waktunya untuk menulis ketika suami dan anaknya sudah tidur. Ia turun dari tempat tidur untuk menulis. Sebelum beraktivitas di dapur. Cikgu Tere menyempatkan waktu untuk menulis.

 

Tepat seminggu Cikgu Tere akhirnya menyelesaikan bukunya. Ia mengirimkan naskah tulisannya ke penerbit mayor. Penerbit Andi di Yogyakarta. Setelah beberapa waktu Penerbit menyerahkan proof buku kembali ke penulis. Proof buku adalah naskah buku yang sudah dilayout, namun masih berupa lembaran yang belum dijilid. Untuk dikoreksi bila masih ada kesalahan.

 

Demikian Cikgu Tere mengisahkan bagaimana proses kreatif dan proses pelaksanaan teknis penyelesaian buku yang dibuat dalam waktu seminggu.

 

Tips dan Trik Menulis Seminggu

Cikgu Tere membagikan tips dan trik menulis seminggu terutama buku yang diberi judul Belajar Semudah Klik, yaitu:

1.      Menonton video dari channel Ekoji
2.      Menelusuri referensi di google terkait materi
3.      Membuat time schedule atau jadwal terkait berapa bagian atau halaman yang ditulis setiap hari.
4.      Kumpulkan referensi sebanyak mungkin
5.      Jauhkan gawai kecuali benar-benar dibutuhkan
6.      Menulis dulu lalu edit kemudian
7.      Kerjasama dengan keluarga1.

 

Terkait poin keenam, menulis dulu edit kemudian. Saya kembali mengutip kalimat Prof. Dr. Irwan Abdullah. Guru besar  Universitas Gajah Mada dalam Kajian virtual Ngaji Jurnal Artikel (5 Agustus 2020)  bahwa menulis dan mengedit merupakan dua kegiatan yang berbeda. Menulislah baru kemudian mengedit. Jangan menulis sambil mengedit.

 

Tips Menyusun Naskah Buk

Cikgu Tere juga dengan senang hati membagi  tips atau langkah-langkah dalam menyusun naskah buku, yaitu:

1.     Pilihlah tema yang sedang tren. Bisa dengan menggunakna google trend. Tujuannya untuk melihat kecenderungan ataupun minat masyarakat sebagai pasar buku kita. Jika kita bukan penulis terkenal maka pilihlah topik dengan baik.
2.      Kembangkan judul menjadi outline naskah. Minimal 5 bab karena mewakili rumus 5W +1H dari hal yang ingin diketahui orang tentang buku kita.
3.      Kembangkan naskah sesuai outline. Keuntungan outline adalah kita menulis sesuai dengan bahan yang tersedia. Tidak harus berurutan menulis perbab. Memungkinkan kita bisa loncat ke bab manapun yang kita mau selesaikan.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Gerakan MAU Membiasakan Menulis

 

Bismillahirrahmanirrahim

Awal Indah dengan Langkah Kecil

Beginning is difficult. Demikian pepatah dari luar. Jika diIndonesiakan berarti memulai itu sulit. Banyak rintangan-rintangan terkadang menjadi alasan untuk memulai melakukan sesuatu. Rintangan itu bisa berupa fisik, mental ataupun rintangan lainnya. Namun yang lebih mendominasi terkadang adalah rintangan mental, seperti takut untuk memulai, takut salah dan semua jenis takut lainnya yang mengungkung dan membatasi gerak langkah kita.

Ketika kita sudah mampu melewati dan mengatasi berbagai rintangan tersebut, maka kegiatan yang kita lakukan selanjutnya akan mulai berjalan. Selanjutnya bagaimana membuat kegiatan tersebut tetap bisa dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Merupakan sebuah tantangan tersendiri.

Demikian pula halnya dengan kegiatan menulis. Jika sudah mulai menulis satu, dua tulisan dan seterusnya. Selanjutnya bagaimana menjaga dan merawat kebiasaan menulis kita untuk tetap konsisten? Hal inilah yang menjadi materi  selanjutnya dalam kegiatan pelatihan menulis bersama Omjay gelombang 15. Materi dihantarkan oleh seorang yang memiliki beragam kegiatan terkait tulis menulis.

Mr. Bams demikian ia disapa. Bambang Purwanto adalah nama pemberian orang tuanya yang digunakan hingga saat ini. Lahir di Kota Bandung 6 April 1974. Seorang pejuang dan pegiat literasi tak kenal lelah. Kecintaaanya pada dunia literasi berawal dari sebuah langkah kecil dilakukan dengan ikhlas. Namun kelak membuahkan hasil yang tidak kecil. Bahkan efeknya meluas dan dirasakan oleh orang banyak. 

Menyiapkan bahan bacaan berupa 20 majalah Bobo, 20 buku cerita anak dan koran edisi kemarin. Dilengkapi buku daftar pengunjung merupakan kegiatan rutin dilakukan Mr Bams setiap malam. Keesokan harinya sebelum berangka kerja. Semua bahan bacaan dan daftar pengunjung tersebut ditata rapi di teras rumahnya. Mr Bams menyebut rumahnya bioskop twenty one. Rumah tipe 21 yang tanpa pagar. 

Kegiatannya inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sejak tahun 2004 hingga 2011. Nama sapaan Mr Bams juga belum lahir. Ia memiliki seorang anak perempuan diberi nama Salwa. Sehingga ia memutuskan memakai nama sapaan Ayah Salwa. Berbeda dari sapaan pada umumnya untuk  beberapa orang yang saat itu terlibat dalam dunia literasi anak-anak. Seperti  Kak Seto. Kak Awam. Mengambil dari nama depan orang tersebut.

Geliat Literasi

Tahun 2012 merupakan tahun penting dalam kehidupan Ayah Salwa. Memiliki rumah impian yang sudah lama diidamkan akhirnya terwujud. Rumah luas yang dapat menampung kegiatan literasi di dalamnya. Resmi membuat sebuah taman bacaan diberi nama Taman Bacaan Ayah Salwa di Lebak Wangi Kota Bandung. Selain menyediakan bahan-bahan bacaan. Iapun melakukan kegiatan mendongeng. Bahan untuk mendongeng didapatnya dari kegiatan banyak membaca. 

Tahun 2013 menjadi momentum lahirnya sebuah gerakan literasi yang dicanangkan pemerintah, dengan Gerakan Literasi Nasional. Diikuti lahirnya Gerakan Literasi Sekolah. Sekaligus menjadi tonggak literasi sekolah di Jawa Barat pada khususnya. Di Indonesia pada umumnya. Ayah Salwa menjadi bagian dari gerakan tersebut dengan menjadi peƱata program di sekolah tempatnya mengajar. SMP Taruna Bakti Kota Bandung. 

Sekolah tersebut menjadi wadah berikutnya bagi Ayah Salwa merawat kegiatan literasi. Sangat sejalan dengan program  Menteri Pendidikan Anies Baswedan saat itu. Gerakan membaca 15 menit menjadi sebuah budaya dan karakter bagi siswa di sekolah. Atas kerja kerasnya sebagai ketua tim literasi bersama seluruh warga sekolah tahun 2019. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kota Bandung menobatkan sekolahnya sebagai Sekolah Literasi Kategori Utama. 

Merawat Literasi

Setiap manusia yang dilahirkan sudah membawa potensi. Melalui kegiatan-kegiatan rutin yang dilakukan hampir setiap hari menjadi ajang latihan untuk membuatnya tumbuh dan berkembang maksimal. Demikian halnya dengan kegiatan menulis. Kegiatan ini sudah kita lakukan sejak di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas hingga Perguruan Tinggi. Dengan diselingi kegiatan membaca. Seharusnya kita sudah bisa menjadi penulis handal. 

Inspirasi menulis bisa diperoleh dari pengalaman-pengalaman hidup yang telah kita lalui. Di sekitar kita tidak sedikit kegiatan, kejadian atau apapun yang bisa ditulis. Bahkan apa yang kita rasakan atau apa yang kita fikirkan pun bisa kita tuangkan dalam bentuk tulisan. 

Menurut Ayah Salwa menulis itu tidak mudah. Menuangkan ide-ide di kepala ke dalam tulisan tidaklah mudah. Namun pesan yang disampaikan tokoh virtual bersamanya Maryo Teduh (Mari Ayo Tenang dalam Urusan Hidup) memberikan solusi bahwa: jangan tulis yang tidak bisa ditulis

Bertemu dengan Omjay di kelas menulis angkatan 8 adalah langkah awal memasuki dunia baru menulis di blog. Meskipun itu bukan pertemuan pertamanya dengan Omjay. Mereka dipersatukan oleh grup guru TIK sebelumnya. Mulailah ia menulis di blog pribadinya. Selain itu ia juga mengelola beberapa blog. Di antaranya blog kelas/wali kelas. Blog RW, ia mengemban amanat sebagai ketua RW. Blog forum taman bacaan. Blog taman bacaan. 

Jurus MAU Menjadi Blogger Sukses

Ayah Salwa baru membuat blog bulan Maret 2020. Di Bulan April blog nya sudah menjadi website yaitu Pena Mr Bams.Id. Dari sinilah nama Mr Bams mulai dipopulerkan. Ia menggunakan waktu senggangnya untuk menulis. Terkadang menulis di kertas. Kertas-kertasnya lalu dilipat menyerupai buku lengkap dengan sampulnya. 

Teknik seperti ini pernah digunakan saat persiapan mengikuti sebuah ajang Penilaian Guru Inspiratif. Een Sukaesi Award se-Jawa Barat di akhir Desember 2019. Bukunya dibuat secara manual, ditulis tangan, ditempeli hasil cetakan kalimat-kalimat bahagia yang jumlahnya sekitar seratus. Kalimat-kalimat bahagia itu ia bagikan dalam akun Instagramnya. Buku manual itu berjudul: Ijinkan Aku Menulis Untukmu. 

Dalam melakukan kegiatan menulis. Mr. Bams menganut satu prinsip. Ia menyebunya dengan istilah MAU. Motivasi merupakan dasar kita menlakukan sesuatu. Apa impian atau cita-cita yang ingin dicapai dengan menulis. Misalnya untuk mendapatkan penghasilan. Untuk digunakan naik pangkat. Untuk sekedar koleksi. Untuk memajukan literasi. Dan sebagainya. 

Aksi merupakan kegiatan nyata melakukan penulisan. Kita melakukan kegiatan menulis secara rutin. Bisa seminggu sekali. Tiga hari sekali. Dua hari sekali. Bahkan setiap hari kita menulis. Ada hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut berupa tulisan. Kumpulan tulisan dalam bentuk buku. Ataupun dalam bentuk sebuah artikel atau makalah dan lain-lain. 

Unggul merupakan kualitas maupun kuantitas hasil yang diperoleh dari kegiatan menulis. Kualitas menunjukkan tulisan kita memiliki penilaian yang baik. Bahkan penilaian terbaik dari orang-orang yang membaca tulisan kita. Penilaian tersebut dapat berasal dari perorangan ataupun kelompok, komunitas dan organisasi. Sedangkan kuantitas merujuk kepada jumlah tulisan yang dihasilkan. Semakin banyak tulisan kita akan menunjukkan tingkat produktiviyas kita dalam menulis.

 Ada tips menarik dari Mr. Bams untuk para penulis pemula. Termasuk saya, yaitu:

  • 1.       Tulislah apa yang mudah. Mudahkanlah hati kita umtuk menulis
  • 2.       Tulislah satu paragrap. Bisa terdiri dari lima kata.
  • 3.       Tulislah dua paragrap.
  • 4.       Tulislah tiga paragrap 

Semua dilakukan secara bertahap. Senada dengan kalimat seorang Profesor Antropologi dari Universitas Gajah Mada. Prof. Dr. Irwan Abdullah (5 Agustus 2020). Dalam sebuah Ngaji Rutin Virtual berjudul Ruang Belajar Menulis Artikel Jurnal. Dilaksanakan setiap malam kamis dan malam ahad. Beliau mengatakan bahwa menulislah satu paragrap pagi sore. Biasakan jangan memulis banyak. Jamgan mengejar halaman. Tulisan yang bagus didapat dengan banyak melakukan latihan. Kalimat bagus akan menulari kalimat lainnya. 

Semoga tips-tips tersebut tidak hanya berhenti pada tataran teori namun berlanjut pada tataran praktis. Practice makes perfect. Latihan membuat sempurna. Banyak berlatih menulis melahirkan tulisan sempurna. Untuk memetakan dan meninggalkan jejak-jejak literasi di muka bumi.


Rumus ABCD+T Menulis Buku Digital Mindset Seminggu

  Bismillahirrahmanirrahim Apa jadinya jika kita ditantang untuk menulis buku dalam waktu seminggu dan akan diterbitkan oleh penerbit mayor?...