Pengikut

Selasa, 18 Agustus 2020

Wind Of Change: Meretas Jalan Menuju Guru Interpreneur Inspiratif

Bismillahirrahmanirrahim

I follow the Moskwa

Down to Gorky Park

Listening to the wind of change

An August summer night

Soldiers passing by

Listening to the wind of change

 

Alunan lagu Wind of Change dibawakan oleh Scorpion, grup band legendaries dari Hannover Jerman. Menjadi pembuka acara sebelum narasumber hadir membawakan materinya pada pelatihan menulis gelombang 15. Lagu ini hits di era tahun 90. Lumayan sedikit bernostalgia mengenang masa-masa lagu ini hits.  

 

Bapak Wijaya Kusumah alias Omjay yang mengirimkan lagu ini di grup. Mungkin maksudnya sekedar mengisi waktu. Namun saya sedikit menerka-nerka tentang kaitan lagu ini dengan materi yang akan dibawakan. Judul lagi ini Wind of Change. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya adalah Angin Perubahan.  Berharap sang narasumber akan membawa rumus perubahan terkait kegiatan tulis menulis.

 

Yang menarik saya menemukan kecocokan kata dalam lirik lagu tersebut. Kata an august artinya bulan Agustus. Tepat sekali saat ini adalah bulan Agustus. Di bulan ini beberapa peristiwa penting akan berlangsung. Di antaranya perayaan hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 2020 .

 

Kembali kepada kegiatan pelatihan menulis. Omjay sebelumnya sudah mengirimkan di grup whatsapp mengenai profil narasumber. Ia seorang perempuan.

 

Tuhan menciptakan perempuan sebagai makhluk yang istimewa. Bila disebutkan maka tidak akan cukup hanya satu paragraph untuk menuliskannya.

 

Salah satu dari keistimewaan itu adalah mereka mampu melakukan lebih dari satu pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Contoh saat mereka menelpon sekaligus bisa sambil memasak, mencuci piring, menyapu dan pekerjaan domestik lainnya. Ini hanyalah satu contoh. Banyak contoh kegiatan lainnya yang bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan.

 

Tak menunggu lama, omjay mulai membuka acara lalu mempersilahkan Ibu Kanjeng untuk menjadi moderator. Namanya Dra. Betti Rismalenni, MM. Beliau seorang guru sekaligus seorang entrepreneur, Ibu Betti memaparkan kisahnya.  

 

Awal Interpreneur

Bu Betti begitu biasa ia disapa. Sejak kecil ia memiliki seorang ibu yang suka membuat kue. Selain untuk dinikmati sekeluarga. Kue buatan ibunya juga dijual dengan cara ditawarkan dan dititipkan ke toko-toko di sekitar rumahnya di daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

 

Betti kecil lah yang menawarkan dan menitipkan kue-kue buatan ibunya sejak mereka tinggal di Cempaka Putih Jakarta hingga keluarga mereka pindah ke Bekasi Jawa Barat.

 

Menitipkan kue-kue buatan ibunya terus ia lakukan hingga jenjang SMA. Untuk jaga gengsi karena ia aktif di sekolah. Pagi-pagi sekali sebelum teman-temannya tiba di sekolah Ia sudah lebih dahulu menitipkan kue-kuenya di kantin SMA 1 Bekasi

 

Menapaki jenjang perguruan tinggi. Ibunya memutuskan untuk merambah usaha katering.

Katering adalah sebuah jenis usaha yang bergerak di bidang penyediaan makanan saji dalam jumlah yang relatif besar. Katering mereka sudah tergolong eksis. Terbukti dari beberapa kantor dan pabrik di sekitar wilayah Bekasi berlangganan katering pada mereka.

  

Usaha catering terus berjalan hingga akhirnya Bu Betti menikah. Kesibukannya yang padat setelah menikah, ditambah faktor kecapean membuat Bu Betii memutuskan menutup usaha kateringnya.

 

Dari kisah yang dituturkan Bu Betti. Ia menyimpulkan bahwa jiwa interpreneurnya telah tumbuh sejak ia mulai menawarkan kue-kue buatan ibunya. Dan menurut analisa penulis. Jiwa interpreneurnya mengalir  kuat dari stereotype suku. Keluarga Bu Betti berasal dari Padang, Sumatera Barat. Orang-orangnya dikenal luas  banyak menekuni pekerjaaan sebagai pedagang, saudagar, wirausaha hingga pengusaha. Semoga kesimpulannya tidak bias, hehe.

 

Mendirikan Kursus dan Sekolah

Jiwa interpreneur bu Betti ternyata tidak hilang. Bu Betti mendirikan kursus tahun 1995. Tidak tanggung-tanggung, Bu Betti adalah pengelola pusat 24 kursus di Bekasi. Bu Betti tidak cukup hanya dengan membuka kursus. Ia melakukan ekspansi dengan mulai merintis dan mengelola Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) Insan Kamil. Berlokasi di Bantar Gebang Bekasi.

 

Dalam masa pengembangan kursus dan sekolah yang ia dirikan. Ia bekerjasama dengan pribadi ataupun sekelompok orang/organisasi. Ia menjalin kerjasama dengan sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi. Namanya Mall Metropolitan. Sejak tahun 1996 hingga tahu 2007 secara rutin menyelenggarakan lomba di Mall tersebut tanpa diminta biaya sewa tempat sepeserpun. Bahkan pihak Mall pun dengan sukarela menyediakan secara gratis untuk hadiah lomba.

 

Dengan orang-orang yang berminat mendirikan kursus pun tak luput ia lakukan kerjasama. Sebagai tahap awal Bu Betti mengajukan syarat bahwa ialah yang akan melatih guru-gurunya. Selain itu ia mewajibkan kursus tersebut menggunakan buku-buku karyanya sebagai materi pembelajaran.

 

Jiwa bisnisnya tak pernah lekang. Lomba-lomba yang rutin ia dadakan, membutuhkan piala-piala sebagai bagian dari hadiah lomba. Piala-piala tersebut menjadi target bisnis berikutnya. Dana piala ia dapatkan dari pembayaran pendaftaran. Ikut menyertakan poin makan dalam kegiatan lomba. Untuk mendapakan untung Ia bekerjasama dengan pengelola makanan cepat saji, juga tak luput dari sisi-sisi tukang dagangnya. Bu Betti tidak mau disebut tukang dagang. Kurang keren dibanding dengan guru.

 

Tindakan mengambil untung dari setiap kegiatan yang dilakukan. Ia tujukan untuk membiayai operasional kursus dan sekolah yang ia kelola. Secara mandiri terus ia lakukan. Tanpa memperoleh bantuan dari fihak manapun. Selain dari kegiatan lomba. Sumber dana ia dapatkan dari usaha menjual buku-buku materi TK yang ia tulis dan cetak sendiri.

 

Isi materi bukunya di antaranya adalah : Mengenal Tarik Garis, Mengenal Angka, Mengenal Huruf, Hafalan Surat Pendek. Materi Aritmetika merupaka materi unggulannya. Buku Aritmatika yang telah ditulisnya berjumlah 30 buku. Alasan utama menulis buku-buku tersebut semata-mata karena dapat menghasilkan uang. Tanpa menafikan nilai angka kredit buku tersebut tergolong tinggi untuk syarat kenaikan pangkat guru.

 

Dari hasil penjualan buku-buku tersebut di pusat-pusat kursus dan sekolah digunakan untuk membantu biaya operasional sekolah. Alhamdulillah sejak tahun 2009 mendapatkan dana BOS yang sangat membantunya menjalankan operasional sekolah.

 

Prestasi-Prestasi

Adapun prestasi yang telah diraih Bu Betti selain mengelola 24 tempat kursus dan mendirikan Kelompok Bermain (KB), TK dan SD Insan Kamil.  Bu Betti pernah meraih Juara pertama  tingkat Kota Bekasi. Kota Bekasi terdiri dari 12 kecamatan

 

Kegigihan dan ketagguhan Bu Betti mengelola kursus dan sekolah telah berbuah manis. Saat ini ia tidak perlu lagi terlibat secara penuh. Salah seorang anak laki-lakinya telah mengambil alih tanggung jawabnya.

 

Bu Betti mulai tertarik kembali menekuni dunia kuliner. Ia memulai ikut pelatihan-pelatihan. Menghasilkan produk skala rumah tangga. Memiliki PIRT produk. PIRT adalah sebuah singkatan yaitu Pangan Industri Rumah Tangga yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kota setempat kepada industri pangan skala usaha kecil dan menengah atau rumahan.

 

Untuk menjamin rasa aman kepercayaan konsumen terhadap produknya. Bu Betti melakukan uji halal dan alhamdulillah produknya telah memiliki sertifikat halal. Langkahnya tak berhenti sampai di sini. Bu Betti melengkapi persyaratan untuk memiliki hak paten atas produknya. Semakin lengkap dengan sertifikat wirausaha yang telah dimiliki. Usahanya telah menjadi UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menegah) binaan Dinas Koperasi Kota Bekasi

 

Prestasi-prestasi yang telah diraih tersebut hanyalah efek samping dari upaya yang telah dilakukan dengan niat awal memberikan kesempatan kepada semua kalangan untuk dapat menikmati pendidikan berkualitas dengan mendirikan sekolah berkualitas dan terbaik.

 

Ketika Bu Betti ditanya oleh moderator ibu Kanjeng tentang niat atau tujuan awal mendirikan sekolah. Bu Betti membuat sebuah analogi: “Kalau orang kaya sekolah di tempat bagus dan orang miskin di tempat jelek. Semua biasa. Tapi bila orang yang tidak mampu bisa sekolah di tempat bagus. Itu baru luar biasa”. “Karena saya guru maka saya pasti bisa buat sekolah” Ia menambahkan.

 

Motivasi paling utama mendorong ia mendirikan sekolah adalah perasaan sedih ketika ia ditolak sebuah sekolah bagus saat akan mendaftarkan anaknya. Alasannya gaji suami yang juga seorang guru dianggap tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya. Kini anaknya yang tertolak itu telah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Gajah Mada dengan nilai cumlaude.

 

Demikian materi yang disampaikan Bu Betti dalam pelatihan menulis gelombang 15 melalui grup whatsapp. Sebelum mengakhiri, ia menyampaikan kalimat penutup yaitu: “ Jika mau melakukan sesuatu, saya selalu berdoa: “ Ya Allah jika Engkau ridho yang akan aku lalukan, maka permudahlah. Jika itu sulit buatku dan Engkau tidak ridho, maka persulitlah”.

 

Perubahan-perubahan yang telah dilakukan Bu Betti telah dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitarnya. Senada dengan lagu Wind of Change di awal pertemuan. Perubahan di bulan Agustus meretas jalam menjadi guru interpreneur. 

43 komentar:

  1. hebat ternyata yg terserang virus malas bukan saya saja, semangat bu lanjut bersama belajar menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kita semangat lagi pak. The show must go on

      Hapus
  2. luar biasa kisah yata bunda betti, semoga bisa ketularan menjadi guru yg pengusaha, aamiiin

    BalasHapus
  3. Luar biasa bun... suatu perjalanan yang cukup menarik dan dapat di jadikan motivasi buat kita semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bun. Semoga tertular semangatnya guru, penulis dan pengusaha. Aamiin

      Hapus
  4. Luar biasa bun... suatu perjalanan yang cukup menarik dan dapat di jadikan motivasi buat kita semua

    BalasHapus
  5. Mantap bu, resumenya, bahasanya jg enak dibaca..tetap 💪💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya bu. Semangat literasi

      Hapus
  6. Mantap Bu resumenya. Lengkap, bahasa mengalir, enak dibaca. Good job. 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bun. Apa kabar long time no see. Semoga sehat selalu

      Hapus
  7. Ada warna lain dalam mendeskripsikan. Bahasanya enak dibaca. Masalah ejaan, kata anak muda "typo tu biasa".

    BalasHapus
  8. Siap master. Masih Harus lebih banyak belajar lagi. Terima kasih kunjungan dan typo nya

    BalasHapus
  9. Awal membaca saya sudah semamgat..karena ada kalimat menarik perempuan bisa segalanya..setuju banget..karena awalnya menarik..jadi magnet untuk membaca terus..makasiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kinjungan dan masukannya. Semangat terus belajar. Salam Literasi

      Hapus
  10. Saya suka dengan gaya bahasa dan pilihan kata yang ibu Sri gunakan. Sungguh bagus...

    BalasHapus
  11. Semangat belajar dan belajar. Terima kasih kunjunngannya bu. Salam Literasi

    BalasHapus
  12. statement penutup keren bisa menebar semanangat berlitarasi sekaligus intrepreneur .....siiip

    monggo barang x berkenan mampir http://nurhidayati2010.com/?p=351

    BalasHapus
  13. Terima kasih kunjungannya. Siap meluncur

    BalasHapus
  14. Lagunya memang mantap, terpadu dengan keren, smangat Buu

    BalasHapus
  15. Balasan
    1. Siap belajar dari narasumber hebat dan teman-teman hebat

      Hapus
  16. Keren resumenya Bu Sri, semoga kita termotivasi kisah Bu Betty yg tangguh...

    BalasHapus
  17. Aammiin. Terima kasih kunjungannya bu dan salam literasi

    BalasHapus
  18. Keren dan mengalir kisahnya bu.

    🤝📖Salam Literasi

    BalasHapus

Rumus ABCD+T Menulis Buku Digital Mindset Seminggu

  Bismillahirrahmanirrahim Apa jadinya jika kita ditantang untuk menulis buku dalam waktu seminggu dan akan diterbitkan oleh penerbit mayor?...